Spiritualitas Dominikan: Pilar Doa

crucifixion-with-mourners-and-sts-dominic-and-thomas-aquinas-1442

Apa itu Spiritualitas Dominikan ?

Spiritualitas Dominikan adalah suatu jalan untuk mengikuti Kristus yang terinspirasi dari kehidupan dan semangat Santo Dominikus. Sebagai murid Yesus, kita dipanggil untuk tumbuh dalam kasih kepada Tuhan dan sesama.

Hal ini lebih dari sebuah perintah dalam arti kewajiban secara hukum; tetapi merupakan suatu undangan untuk hidup kudus, dan selanjutnya, untuk mencapai kebahagiaan. Tuhan menciptakan kita untuk saling mengasihi. Secara alami kita memiliki dorongan untuk saling mengasihi dan ketika kita merangkul kasih Tuhan dan meneruskan kasih itu kepada sesama, kita menemukan pemenuhan diri kita sebagai manusia.

Akan tetapi mengasihi Tuhan dan sesama dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk. Ada banyak jalan menuju Tuhan. Dalam mengikuti Kristus, kita sangat beruntung karena memiliki contoh dari para orang kudus yang sangat mencintai Tuhan dengan sangat gagah berani. Mereka adalah para santo/santa. Dan salah seorang dari mereka adalah Santo Dominikus, dan dengan merefleksikan cara Santo Dominikus mengikuti Kristus, kita terinspirasi untuk tumbuh secara intim dalam kasih Tuhan dan sesama.

Secara khusus, cara para Dominikan mengungkapkan cinta kepada Tuhan dan sesama ialah dengan melaksanakan tugas utama Ordo: yaitu mewartakan Injil untuk keselamatan jiwa-jiwa. Selama kurun waktu delapan ratus tahun, tugas pewartaan ini telah hidup dalam berbagai budaya dan telah mengambil berbagai bentuk.

Akan tetapi yang mendasari misi pewartaan adalah empat elemen dalam kehidupan Dominikan yang memberikan arah yang jelas untuk hidup sesuai dengan visi Santo Dominikus. Elemen ini adalah doa, studi, komunitas dan pewartaan. Secara tradisional, keempat elemen ini disebut dengan “empat pilar” dari kehidupan Dominikan karena hal tersebut memberikan fondasi dan dukungan untuk hidup para Dominikan.

PILAR DOA

Doa secara sederhana dapat didefinisikan sebagai berbicara dengan Tuhan. Sama dengan banyaknya cara untuk berbincang dengan sahabat, begitu juga terdapat banyak cara dalam kita berdoa. Ada tiga elemen yang membentuk doa Dominikan. Doa Dominikan bercorak manusiawi, berpusat pada Ekaristi dan kontemplatif.

Pertama, doa Dominikan adalah sungguh manusiawi. Karakteristik doa Dominikan ialah dengan memadukan kegiatan tubuh, pikiran dan jiwa. Dari dokumen kuno Dominikan, kita mempelajari sembilan cara berdoa pribadi Santo Dominikus. Ketika Santo Dominikus berdoa, dia akan membungkuk dengan sangat dalam, merebahkan diri di lantai, berlutut, melakukan silih dan menengadahkan tangan ke surga.

 

Baik berdiri, duduk, berlutut, merebahkan diri atau berjalan, Santo Dominikus melakukan seluruh postur ini ketika berdoa. Bagi Santo Dominikus, doa bukan saja merupakan kegiatan atau latihan mental, tetapi merupakan hal yang intim dan percakapan pribadi dengan Tuhan yang diungkapkan dengan menyatukan tubuh dan jiwa.

Penyatuan tubuh dan jiwa ini, penyatuan kata dan sikap tubuh yang lembut ini, mengikutsertakan totalitas seseorang dalam menyembah Tuhan.

Kedua, doa Dominikan terpusat pada Ekaristi. Di awal periode kehidupannya, Santo Dominikus diangkat menjadi seorang superior kanon reguler, yang mana tugas utamanya dan yang menjadi sukacita Dominikus adalah melantunkan doa Ibadat Harian bersama-sama dan mempersembahkan kurban Ekaristi. Hal ini tidak hanya merupakan kegiatan doa bersama dengan umat dalam Gereja, tetapi hal ini juga yang membentuk dasar dari doa pribadi Santo Dominikus. Lantunan nada Ibadat Harian, kebahagiaan luar biasa yang terpancar dari Doa Syukur Agung persembahan-diri Yesus dalam Ekaristi – semua hal ini terserap dalam kehidupan doa pribadi Santo Dominikus dan semuanya memberikan bentuk dan kuasa dari doa kontemplasi pribadi Santo Dominikus.

Ketiga, doa Dominikan adalah kontemplatif. Kita semua dipanggil untuk hidup secara kontemplatif. Sering kali, kontemplasi dibayangkan sebagai suatu bentuk kegiatan doa mistik tingkat tinggi yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang memahami teologi mistik. Namun sebenarnya doa kontemplatif merupakan sesuatu yang dapat dialami oleh seorang awam biasa; doa ini bukan merupakan doa yang dikhususkan bagi rahib atau suster dan mereka yang membaktikan diri untuk berdoa. Kita semua dipanggil melalui undangan kudus dari Tuhan, untuk menjadi kontemplatif.

Mungkin tidak terbersit dalam pikiran kita bahwa kita memiliki panggilan tersebut karena kita kurang memahami apa itu kontemplasi. Secara gamblang, kontemplasi merupakan pengalaman berada di dalam hadirat Tuhan. Kontemplasi merupakan suatu suasana kebersamaan bersama sahabat. Bahkan, persahabatan merupakan contoh yang baik untuk memahami kontemplasi. Kita semua dipanggil untuk bersahabat dengan Tuhan. Inilah artinya menjadi suci, menjadi orang kudus. Sama seperti sepasang sahabat yang menikmati kebersamaan hanya dengan hadir bagi sahabatnya, kita juga dipanggil untuk hidup di hadirat Tuhan. Ketika kita bersama dengan seorang sahabat, kita tidak harus memikirkan mereka, akan tetapi kita sudah sangat berbahagia dengan hadir bersama mereka. Jadi kontemplasi bukanlah merupakan “kegiatan” seperti akan halnya “kehadiran”. Sama seperti surga merupakan pemenuhan yang sekaligus merupakan pengalaman langsung akan wajah Allah, kegiatan kontemplasi adalah mencicipi pengalaman akan surga. Jadi ketika kita hadir dalam hadirat Allah, Dia yang sangat mencintai kita hidup di dalam diri kita. Tuhan, yang selalu bersama kita, menjadi sangat hidup dan aktif dalam diri kita melalui doa kontemplatif. Jadi semua metode doa dan cara-cara khusus dalam berdoa hanyalah merupakan kegiatan awal. Doa Dominikan harus melampaui hal tersebut sampai pada perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tempat kita berbahagia hanya dengan berada di hadirat Tuhan.

Moto :

  1. Berbicara dengan Tuhan dan berbicara tentang Tuhan
  2. Contemplari et Contemplata Aliis Tradere : Berkontemplasi dan membagikan buah kontemplasi kepada sesama.

Kegiatan doa yang disarankan :

  1. Ekaristi sesering mungkin
  2. Doa Ibadat Harian (pagi, siang dan malam)
  3. Doa Rosario

Bahan renungan :

Minggu ke-1 : Hal apa yang membuat saya tertarik untuk mengikuti kehidupan spiritual Santo Dominikus ?

Minggu ke-2 : Bagaimanakah pilar Doa saya selama ini ? Apakah saya sudah menjadikan Tuhan sebagai sahabat ?

Minggu ke-3 : Apa yang akan saya lakukan dalam menanggapi panggilan Tuhan dan sebagai Dominikan untuk hidup kontemplatif ?

Minggu ke-4 : Apa yang akan saya lakukan agar dapat bertumbuh dalam kekudusan melalui pilar Doa ?

Sumber : Four Pillar – http://www.dominicanwitness.com. Artikel diterjemahkan oleh Stanley Mandolang. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s