Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Albertus Agung

This painting of St. Albert the Great is on the ceiling of Santa Maria dell'Anima in Rome. Photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.
This painting of St. Albert the Great is on the ceiling of Santa Maria dell’Anima in Rome. Photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Saudara-saudari terkasih,

Salah satu guru besar teologi abad pertengahan adalah St. Albertus Agung. Gelar “Agung” (Magnus), yang telah dimasukkan ke dalam sejarah, menunjukkan betapa luas dan dalam pengajarannya, yang dipadukan dengan kekudusan hidup. Sekalipun demikian, rekan sezamannya tidak ragu untuk mengatributkan kepadanya gelar-gelar yang menampilkan keunggulan lainnya. Salah satu muridnya, Ulric dari Strasbourg, memanggil dia “kekaguman dan keajaiban zaman kita”.

Ia lahir di Jerman pada permulaan abad 13. Ketika ia masih muda, ia pergi ke Italia, ke Padua, tempat salah satu universitas abad pertengahan paling terkenal. Ia membaktikan dirinya bagi studi yang disebut “liberal arts”: grammar, retorika, dialektik, aritmatika, geometri, astronomi, dan musik, yaitu studi budaya secara umum, yang menunjukkan minat karakteristik dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences) yang segera menjadi bidang spesialisasi favoritnya. Selama menetap di Padua, ia menghadiri Gerejanya kaum Dominikan, selanjutnya ia bergabung dengan Ordo Dominikan melalui pengucapan kaul religius (profession of the religious vows). Sumber-sumber hagiografis menunjukkan bahwa Albertus tiba pada keputusan ini secara bertahap. Relasinya yang intens dengan Allah, teladan kekudusan dari pada saudara Dominikan, khotbah Beato Yordan dari Saxony yang didengarnya, yakni penerus Master Jendral Ordo Pewarta, merupakan faktor-faktor penentu yang membantunya mengatasi setiap keraguan dan bahkan mengatasi perlawanan dari keluarganya. Allah sering kali berbicara pada kita dalam masa muda kita dan menunjukkan pada kita rencana kehidupan kita. Demikian pula bagi Albertus dan bagi kita semua, sarana yang diperlukan untuk menemukan dan mengikuti suara Allah adalah doa pribadi, yang diperkaya dengan Sabda Tuhan, penerimaan Sakramen dengan lebih sering, serta bimbingan rohani dari orang-orang yang diterangi Allah. Ia menerima jubah religius dari Beato Yordan dari Saxony.

Setelah tahbisan imamatnya, superiornya mengutusnya untuk mengajar di berbagai pusat studi teologis yang disatukan dengan biara para Imam Dominikan. Kualitas intelektualnya yang cemerlang memampukan ia menyempurnakan studi teologisnya di universitas paling terkenal pada masa itu, yakni Universitas Paris. Sejak saat itu, St. Albertus memulai aktivitas luar biasanya sebagai penulis, yang tetap dilakukannya sepanjang hidupnya.

Continue reading “Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Albertus Agung”

Studi dalam Spiritualitas Dominikan

sacred-conversation-1443

Tulisan ini merupakan hasil studi, renungan, dan pengalaman saya berkenaan dengan studi dalam spiritualitas Dominikan. Tentunya sebagai seorang Dominikan Awam, saya tidak bisa berkata bahwa saya sudah berhasil menghidupi empat pilar spiritualitas Dominikan (doa, studi, pewartaan, dan hidup berkomunitas). Meskipun demikian, melalui tulisan ini, saya berusaha untuk menampilkan keunikan dan pentingnya studi bagi Ordo Dominikan. Perlu diingat bahwa tulisan ini bukanlah sebuah upaya yang komprehensif untuk menjelaskan studi secara lengkap, melainkan sebuah fragmen, sekeping pemahaman yang saya tawarkan, namun tetap terbuka untuk disempurnakan dan dilengkapi oleh yang lain.

Sekilas, mungkin ada yang bertanya: bukankah studi itu merupakan sesuatu yang kita lakukan setiap hari? Kita bersekolah; dari sekolah dasar hingga ke tingkat universitas. Ada banyak buku yang dapat digunakan sebagai referensi dalam studi. Kemudahan akses internet pun memberikan kekayaan informasi yang luas, yang bisa dicapai dengan cepat. Selain itu, bukankah dalam ordo atau tarekat religius lain, juga bagi mereka yang ingin menjadi imam atau menjalani hidup bakti, harus memperoleh formasi filsafat, teologis, dan spiritual? Bukankah itu berarti mereka juga harus melakukan studi? Lantas, mengapa Ordo Dominikan memberikan tempat khusus dalam studi?

Tulisan ini terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama memberikan penjelasan singkat tentang situasi historis berdirinya Ordo Dominikan. Bagian kedua menonjolkan beberapa peristiwa hidup St. Dominikus yang terkait dengan studi. Bagian ketiga merupakan eksplorasi atau pendalaman mengenai studi itu sendiri. Bagian keempat berbicara tentang pengalaman pribadi saya mengenai studi, sekaligus menjadi penutup tulisan ini. Bagian kelima merupakan apendiks, yakni terjemahan saya mengenai surat St. Thomas Aquinas kepada Saudara Yohanes mengenai studi.

Continue reading “Studi dalam Spiritualitas Dominikan”

Spiritualitas Dominikan: Pilar Doa

crucifixion-with-mourners-and-sts-dominic-and-thomas-aquinas-1442

Apa itu Spiritualitas Dominikan ?

Spiritualitas Dominikan adalah suatu jalan untuk mengikuti Kristus yang terinspirasi dari kehidupan dan semangat Santo Dominikus. Sebagai murid Yesus, kita dipanggil untuk tumbuh dalam kasih kepada Tuhan dan sesama.

Hal ini lebih dari sebuah perintah dalam arti kewajiban secara hukum; tetapi merupakan suatu undangan untuk hidup kudus, dan selanjutnya, untuk mencapai kebahagiaan. Tuhan menciptakan kita untuk saling mengasihi. Secara alami kita memiliki dorongan untuk saling mengasihi dan ketika kita merangkul kasih Tuhan dan meneruskan kasih itu kepada sesama, kita menemukan pemenuhan diri kita sebagai manusia.

Akan tetapi mengasihi Tuhan dan sesama dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk. Ada banyak jalan menuju Tuhan. Dalam mengikuti Kristus, kita sangat beruntung karena memiliki contoh dari para orang kudus yang sangat mencintai Tuhan dengan sangat gagah berani. Mereka adalah para santo/santa. Dan salah seorang dari mereka adalah Santo Dominikus, dan dengan merefleksikan cara Santo Dominikus mengikuti Kristus, kita terinspirasi untuk tumbuh secara intim dalam kasih Tuhan dan sesama.

Secara khusus, cara para Dominikan mengungkapkan cinta kepada Tuhan dan sesama ialah dengan melaksanakan tugas utama Ordo: yaitu mewartakan Injil untuk keselamatan jiwa-jiwa. Selama kurun waktu delapan ratus tahun, tugas pewartaan ini telah hidup dalam berbagai budaya dan telah mengambil berbagai bentuk.

Akan tetapi yang mendasari misi pewartaan adalah empat elemen dalam kehidupan Dominikan yang memberikan arah yang jelas untuk hidup sesuai dengan visi Santo Dominikus. Elemen ini adalah doa, studi, komunitas dan pewartaan. Secara tradisional, keempat elemen ini disebut dengan “empat pilar” dari kehidupan Dominikan karena hal tersebut memberikan fondasi dan dukungan untuk hidup para Dominikan.

PILAR DOA

Doa secara sederhana dapat didefinisikan sebagai berbicara dengan Tuhan. Sama dengan banyaknya cara untuk berbincang dengan sahabat, begitu juga terdapat banyak cara dalam kita berdoa. Ada tiga elemen yang membentuk doa Dominikan. Doa Dominikan bercorak manusiawi, berpusat pada Ekaristi dan kontemplatif.

Continue reading “Spiritualitas Dominikan: Pilar Doa”

Sejarah Pewartaan di Abad Pertengahan

Sts Dominic & Francis ALion

Khotbah (sermon) merupakan salah satu aspek yang menonjol dalam kehidupan orang Kristen di abad pertengahan. Khotbah merupakan sarana dalam mengajar dan membujuk orang Kristen. Pada umumnya, sebagian besar khotbah dilakukan dalam konteks liturgis, namun ada juga khotbah yang didengar oleh orang awam di luar konteks tersebut.

Apakah tujuan dari pewartaan? Menurut St. Agustinus, tujuan utama pewartaan ialah untuk mengajar para pendengarnya. Banyak khotbah yang ditujukan bagi kaum awam bertujuan untuk mengajarkan ortodoksi, membantah kesesatan, dan menunjukkan bahaya paganisme. Selain itu, melalui khotbah, diharapkan agar mereka bertobat dan melakukan karya kasih.

Secara menyeluruh, tujuan utama seorang pewarta yang berkhotbah ialah untuk menggerakkan pendengarnya agar mengalami pertobatan hati yang mengubah hidupnya. Seorang pewarta yang ideal haruslah mendidik pendengarnya agar memahami penafsiran Kitab Suci yang tepat, serta membimbing mereka melakukan tindakan yang benar melalui kata dan perbuatan.

Para cendekiawan secara umum membagi khotbah menjadi dua kategori, yakni homilia (homili) dan sermo (yang saya artikan sebagai khotbah). Homili biasanya berisi tentang penjelasan dan komentar ayat-ayat Kitab Suci, baik per kata atau kalimat, secara berurutan. Sermo sedikit berbeda dari homili, secara umum sermo berfokus pada tema yang dikembangkan dari teks Kitab Suci. Tema tersebut bisa diambil dari perayaan liturgis, baik hari minggu tertentu, atau bisa juga hari raya santo/a, serta pada kesempatan khusus seperti pemakaman orang mati.

Bentuk-bentuk khotbah patristik sebenarnya cukup bervariasi, hal ini terlihat dari berbagai istilah seperti homilia, exhortatio, admonitio, tractactus, sermo. Namun pada abad ke-12, istilah sermo yang semakin mendominasi dan mengalahkah istilah lainnya.

Warisan Bapa Gereja dalam Pewartaan Abad Pertengahan

Pope Urban II at the Council of Clermont (1095), where he preached the First Crusade; later manuscript illumination of c. 1490Pewarta abad pertengahan menyusun sermo mereka berlandaskan pada karya teologis dan retoris Bapa Gereja. Dua tokoh Bapa Gereja yang sangat berperngaruh dalam penyusunan struktur dan konten sermo saat itu adalah St. Agustinus dari Hippo dan St. Gregorius Agung.

St. Agustinus menjelaskan bahwa dalam menjelaskan simbol-simbol biblis, para pendengar harus dididik dalam hal apa yang baik dan yang jahat, sedangkan St. Gregorius lebih menekankan pada pengajaran ortodoksi teologis. Ia memberikan perhatian khusus pada identitas pewarta sebagai seorang pastor, gembala bagi kawanan dombanya, yang harus menjalankan hidupnya sesuai dengan apa yang dikatakannya. Dengan demikian, kawanan domba yang meneladani gembalanya, dapat meniru teladan hidup yang diperlihatkan daripada kata-katanya.

Persamaan di antara St. Agustinus dan Gregorius ialah mereka menyadari adanya perbedaan di antara para pendengarnya. Jadi, perkataan yang sama dapat didengar dan diartikan secara berbeda oleh orang yang berbeda juga.

Continue reading “Sejarah Pewartaan di Abad Pertengahan”

Pandangan St. Agustinus tentang Pewartaan

St. Augustine preaching before Valere, Bishop of Hippo

“Tak diragukan lagi, ia adalah seorang yang tandus, yang mewartakan Sabda Allah secara lahiriah tanpa mendengarnya secara batiniah.” – St. Agustinus

Mari kita mengarahkan perhatian kita kepada salah satu Bapa Gereja Barat yang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pewartaan: St. Agustinus dari Hippo. St. Agustinus menulis sebuah buku yang berjudul Mengenai Ajaran Kristen, yang terdiri dari empat buku: buku I-III membahas tentang cara memahami dan menafsirkan Kitab Suci, sedangkan buku keempat berbicara tentang bagaimana menyampaikan kebenaran, dengan kata lain, buku keempat ini banyak berbicara tentang pewartaan baik itu secara prinsip maupun praktik.

Tiga Fungsi Pewartaan Menurut St. Agustinus

“Seorang orator ulung dengan benar berkata bahwa “seseorang yang fasih berbicara harus berbicara untuk mengajar, memberikan kesenangan, dan membujuk.” Lalu ia menambahkan: “Mengajar adalah keharusan, memberikan kesenangan merupakan keindahan, membujuk merupakan sebuah kemenangan”.” – St. Agustinus

Menurut St. Agustinus, terdapat tiga fungsi pewartaan: untuk mengajar, memberikan kesenangan, dan membujuk.

Vergós_Group_-_Saint_Augustine_Disputing_with_the_Heretics_-_Google_Art_ProjectFungsi pengajaran menegaskan bahwa seorang pewarta, harus menafsirkan dan menjaga kebenaran ilahi yang ia temukan dalam Kitab Suci, sekaligus juga menghancurkan kesesatan yang ada. Hal ini terlihat jelas dalam homili St. Agustinus, yaitu bahwa ia tidak hanya menjelaskan apa yang benar, tetapi seringkali ia juga menghancurkan kesesatan yang ia temui, misalnya kesesatan Donatisme. Mengajar merupakan sebuah keharusan karena seseorang tidak dapat bertindak bila ia tidak mengetahui apa yang benar yang harus dilakukan.

Mengajar juga berarti bahwa kebenaran yang disampaikan haruslah mudah dimengerti. Oleh karena itu, hendaknya cara penyampaian yang rumit dan ambigu harus dihindari sehingga pendengar dapat memperoleh pemahaman yang sama. St. Agustinus menempatkan fungsi pengajaran ini sebagai prioritas utama dalam pewartaan. Ia berkata:

“Untuk apa sebuah kunci yang terbuat dari emas, bila ia tidak dapat membuka apa yang ia inginkan untuk dibuka? Atau keberatan apa yang harus kita ajukan kepada kunci yang terbuat dari kayu, bila ia dapat membuka apa yang ditutup, dan inilah yang kita inginkan?”

Dengan kata lain, kebenaran yang disampaikan pewarta itu bagaikan kunci yang seharusnya dapat membuka pintu hati manusia, sehingga ia dapat berdiam di dalamnya. Akan lebih baik bila kebenaran memang disampaikan dengan cara yang indah, namun apabila seseorang tidak memiliki talenta dalam hal ini, hendaknya rasa cinta terhadap kebenaranlah yang diutamakan dan bukan bagaimana seharusnya kebenaran itu disampaikan.

Continue reading “Pandangan St. Agustinus tentang Pewartaan”

Cinta akan Sabda dan Kerinduan akan Allah: Mengenai Teologi Monastik dan Skolastik

An interesting but complex allegorical 18th-century fresco adorns the choir of the Dominican church of San Esteban in Salamanca. In this detail, we see a personification of the Mother Church carrying the Eucharist, the Cross, the Gospel of Matthew, and the book of the Elect. She is robed, as usual, in pontifical vesture, and crowned with the papal tiara. Next to her is St Thomas Aquinas, the Universal Doctor of the Church.
An interesting but complex allegorical 18th-century fresco adorns the choir of the Dominican church of San Esteban in Salamanca. In this detail, we see a personification of the Mother Church carrying the Eucharist, the Cross, the Gospel of Matthew, and the book of the Elect. She is robed, as usual, in pontifical vesture, and crowned with the papal tiara. Next to her is St Thomas Aquinas, the Universal Doctor of the Church.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini saya merenung tentang halaman sejarah yang menarik, berkenaan dengan berkembangnya teologi Latin di abad ke-12 yang terjadi melalui serangkaian peristiwa di bawah penyelenggaraan ilahi. Damai bernaung di negara-negara Eropa Barat pada waktu itu, yang menjamin perkembangan ekonomi dan konsolidasi sturuktur politik dalam masyarakat, mendorong aktivitas budaya yang hidup dan juga melalui persentuhannya dengan dunia Timur. Keuntungan dari tindakan yang luas ini, yang dikenal sebagai “Reformasi Gregorian”, sudah dirasakan di dalam Gereja. Dengan penuh semangat Reformasi Gregorian didukung dalam abad-abad sebelumnya, mereka menghasilkan kemurnian evangelis yang lebih besar bagi kehidupan komunitas gerejawi, secara khusus bagi para klerus, dan telah memulihkan Gereja dan Kepausan ke dalam kebebasan bertindaknya yang otentik.

Lebih lanjut, pembaruan rohani berskala luas ditopang oleh perkembangan hidup bakti yang menyebar luas; ordo religius baru bermunculan dan berkembang, sementara ordo yang sudah ada mengalami kebangkitan rohani yang menjanjikan.

Teologi juga berkembang secara baru, memperoleh kesadaran lebih besar akan hakikatnya; ia mempertajam metodenya; menghadapi persoalan baru; berkembang dalam kontemplasi misteri-misteri Allah, menghasilkan karya-karya fundamental; mengilhami inisiatif kultural yang penting dari bidang seni hingga sastra; dan mempersiapkan karya agung yang bertahan selama ratusan tahun ke dapan, inilah masa Thomas Aquinas dan Bonaventura dari Bagnoregio.

Aktivitas teologi yang intens terjadi dalam dua suasana: biara dan Sekolah-sekolah urban, scholae, beberapa di antaranya adalah perintis universitas, salah satu dari ciri “penemuan” Kekristenan Abad Pertengahan.

Atas dasar dua suasana inilah, biara dan scholae, kita menjadi mampu berbicara tentang dua contoh teologi yang berbeda: “teologi monastik” dan “teologi skolastik”. Perwakilan teologi monastik adalah para rahib, biasanya abbot, yang diberkahi dengan hikmat dan semangat evangelis, yang membaktikan diri secara hakiki untuk mengilhami dan memperkaya rancangan Allah yang penuh kasih. Perwakilan teologi skolastik adalah kaum terpelajar, yang sangat bersemangat dalam penelitian; mereka adalah magistri (guru) yang gelisah untuk menampilkan rasionalitas Misteri Allah dan manusia, yang dipercaya dengan iman, tentu saja, tetapi juga dipahami oleh akal budi. Tujuan akhir mereka menjelaskan perbedaan dalam metode dan cara mereka dalam berteologi.

Dalam biara abad ke-12 metode teologis memerlukan penjelasan Kitab Suci, sacra pagina, dalam istilah para penulis pada periode itu; teologi biblis secara khusus diterapkan. Para rahib, dengan kata lain, adalah pendengar yang saleh dan pembaca Kitab Suci serta salah satu pekerjaan utama mereka terdiri dari lectio divina, yaitu, membaca Kitab Suci dalam suasana doa. Bagi mereka pembacaan Teks Suci belaka tidaklah memadai untuk memahami kedalaman maknanya, kesatuan batinnya dan pesannya yang transenden. Oleh karena itu, perlulah melakukan teologi biblis, dalam kepatuhan kepada Roh Kudus. Jadi, dalam sekolah Bapa Gereja, Kitab Suci ditafsirkan secara alegoris untuk menemukan apa yang dikatakan tentang Kristus dan karya keselamatan-Nya dalam setiap halaman Perjanjian Lama dan Baru.

Continue reading “Cinta akan Sabda dan Kerinduan akan Allah: Mengenai Teologi Monastik dan Skolastik”

Berteologi adalah Mengenal dan Mengasihi Allah

St. Thomas and St. Bonaventure. In this fresco from a side chapel in the church of Santa Maria in Aracoeli in Rome, St. Bonaventure is shown writing and discoursing with his contemporary, the great Dominican scholastic and Doctor, St Thomas Aquinas. Photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.
St. Thomas and St. Bonaventure. In this fresco from a side chapel in the church of Santa Maria in Aracoeli in Rome, St. Bonaventure is shown writing and discoursing with his contemporary, the great Dominican scholastic and Doctor, St Thomas Aquinas. Photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Saudara-saudari terkasih,

Pagi ini, dengan melanjutkan refleksi Rabu lalu, saya ingin belajar bersama anda semua mengenai beberapa aspek pengajaran St. Bonaventura dari Bagnoregio. Ia adalah teolog yang menonjol yang pantas disejajarkan dengan pemikir besar lainnya, rekan sezamannya, St. Thomas Aquinas. Keduanya menelisik misteri Wahyu, memanfaatkan sumber akal budi manusia dengan maksimal, dalam dialog iman dan akal budi yang berbuah, yang menjadi ciri Kekristenan Abad Pertengahan, dan menjadikannya periode semangat intelektual dan iman serta pembaruan gerejawi, yang kerap kali kurang ditekankan secara memadai.

Kesamaan lainnya menghubungkan mereka. Bonaventura, seorang Fransiskan, dan Thomas, seorang Dominikan, adalah anggota Ordo Mendikan, yang mana melalui kesegaran rohaninya mereka membarui seluruh Gereja di abad 13 dan menarik banyak pengikut, seperti yang saya sebutkan dalam Katekese sebelumnya. Mereka berdua melayani Gereja dengan ketekunan, semangat, dan kasih, sampai pada titik ketika mereka diundang berpartisipasi dalam Konsili Ekumenis Lyon tahun 1274, tahun yang sama ketika mereka wafat; Thomas wafat ketika ia sedang menempuh perjalanan menuju Lyons, Bonaventura wafat ketika Konsili sedang berlangsung.

Bahkan patung kedua Santo ini ditempatkan sejajar di Lapangan St. Petrus. Mereka berdiri tepat di awal collonade, berawal dari bagian muka Basilika Vatikan; yang satu ada di sisi sayap kiri dan lainnya di sisi kanan. Sekalipun terdapat kesamaan aspek ini, dalam dua Santo yang besar ini kita dapat membedakan dua pendekatan dalam penelitian filosofis dan teologis yang menampilkan orisinalitas dan kedalaman pemikiran mereka. Saya ingin menunjukkan beberapa perbedaan mereka.

Perbedaan pertama berkenaan dengan konsep teologi. Kedua doktor ini bertanya apakah teologi adalah ilmu pengetahuan spekulatif atau praktis. St. Thomas merenungkan dua kemungkinan jawaban yang bertolak-belakang. Ia berkata: teologi adalah refleksi tentang iman dan tujuan iman adalah manusia menjadi baik dan hidup seturut kehendak Allah. Oleh sebab itu, tujuan teologi ialah menjadi pemandu orang-orang di jalan yang baik dan benar; dan karenanya teologi secara mendasar adalah ilmu pengetahuan praktis.

Posisi lainnya berkata: teologi berusaha untuk mengenal Allah. Kita adalah karya Allah; Allah itu melampaui tindakan kita. Allah mengerjakan tindakan yang benar dalam diri kita; sehingga pada hakikatnya ia berhubungan bukan pada apa yang kita lakukan, tetapi pada pengenalan akan Allah, dan bukan perbuatan kita. Kesimpulan St. Thomas ialah: teologi mencakup dua aspek: teoritis, karena ia berusaha mengenal Allah dengan lebih baik, dan praktis, karena ia berusaha mengarahkan hidup kita kepada kebaikan. Tetapi ada primasi atau keutamaan pengetahuan: terutama kita harus mengenal Allah dan terus bertindak selaras dengan Allah (Summa Theologiae, Ia, q. 1, art. 4).

Primasi pengetahuan ini bila dibandingkan dengan praktik, merupakan orientasi fundamental St. Thomas Aquinas yang sangat penting.

Jawaban St. Bonaventura sangat mirip tetapi ia memberikan penekanan yang berbeda. St. Bonaventura mengenal argumen yang sama bagi kedua arahan itu, sama seperti St. Thomas, tetapi dalam menjawab apakah teologi adalah ilmu pengetahuan spekulatif atau praktis, St. Bonaventura membuat tiga dinstingsi—oleh sebab itu ia memperluas alternatif antara aspek teoritis (primasi pengetahuan) dan aspek praktis (primasi praktis), dengan menambahkna sikap ketiga yang dia sebut “sapiential” (hikmat atau kebijaksanaan) dan menegaskan bahwa hikmat mencakup kedua aspek teoritis dan praktis.

Dan Bonaventura melanjutkan: hikmat mencari kontemplasi (sebagai bentuk tertinggi pengetahuan), dan memiliki tujuan “un boni fiamus”—semoga kita menjadi baik, khususnya ini: untuk menjadi baik (cf. BreviloquiumPrologus, 5). Ia lalu menambahkan: “iman ada dalam akal budi, dalam cara sedemikian rupa sehingga ia membangkitkan afeksi. Contohnya: pengetahuan bahwa Kristus wafat ‘bagi kita’ tidak tinggal sebagai pengetahuan tetapi selalu menjadi afeksi, menjadi kasih (Proemium in I Sent., q. 3).”

Continue reading “Berteologi adalah Mengenal dan Mengasihi Allah”