Ucapan Natal dari Fra Angelico, O.P. (1387-1455)

Fra Angelico - Nativity
Nativity Scene by Bl. John of Fiesole, O.P. (Fra Angelico)

Salam dariku. Aku adalah sahabatmu, dan kasihku padamu amat mendalam.

Tidak ada yang dapat kuberikan yang belum kamu miliki, tetapi banyak sekali yang, walau aku tidak dapat memberikannya, namun kamu dapat menerimanya.

Surga takkan pernah datang kepada kita kecuali hati kita menemukan peristirahatannya pada hari ini.

Terimalah surga itu.

Tidak ada damai di masa depan yang tidak tersembunyi dalam momen kecil yang berharga ini.

Terimalah damai itu.

Kemuraman dunia ini tidak lain hanyalah bayang-bayang. Di baliknya, masih dalam jangkauan kita, adalah sukacita. Masih ada terang dan keberanian dalam kegelapan ini, dan untuk melihatnya, kita hanya perlu mencarinya.

Hidup itu murah hati, tetapi kita sering menilai karunia-karunianya melalui bungkusnya, dan kita membuangnya apabila karunia itu tampak jelek, berat, atau sulit. Tetapi singkirkan pembungkusnya, dan kamu akan menemukan kecemerlangan yang hidup, yang ditenun dari kasih, kebijaksanaan, dan kekuatan. Sambutlah ia, sapalah, dan kamu akan menyentuh tangan sang malaikat yang membawanya kepadamu.

Segala hal yang kita sebut pencobaan, dukacita, dan tanggung jawab, percayalah, tangan malaikat ada di sana, karunia itu ada di sana, juga keajaiban Kehadiran Ilahi yang mengatasi semua.

Bahkan, janganlah kita berpuas diri dengan sukacita kita. Sukacita itu pun menyembunyikan karunia-karunia yang lebih luhur lagi.

Hidup itu penuh makna dan tujuan, penuh keindahan di balik pembungkusnya. Kamu akan melihat bagaimana bumi sesungguhnya menyembunyikan surgamu.

Maka, beranilah untuk menyambut itu semua! Beranilah, dan ketahuilah bahwa kita adalah peziarah yang sedang dalam perjalanan pulang, mengarungi negeri asing menuju rumah kita.

Karena itu, pada masa Natal ini, aku menyapamu, bukan seperti dunia ini menyapa, tetapi dengan hormat mendalam sekarang dan selama-lamanya.

Fajar merebak dan kegelapan bayang-bayang pun enyah.

Video Konser Musik: Advent Lessons and Carrols

Dari blog New Liturgical Movement, saya menemukan video konser musik untuk Masa Advent, yang disertai dengan lukisan karya Fra Angelico. Semoga dapat dinikmati oleh kita semua. Mari mewartakan Injil melalui keindahan!

Good news from the Eternal City. Last week there was an Advent Lessons and Carols concert in Rome, with a choir made up of students from the Pontifical Institute for Sacred Music, as well as a number of lay and religious students in Rome, under the direction of Sr. Rosemary, O.P. (from Nashville). It was their first performance, with a lovely selection of pieces. A full recording of the ceremony and music is available:

Homili Malam Natal Paus Benediktus XVI: “Di Kandang Bethlehem, Surga Telah Turun Ke Bumi”

3136800794_42ac9b7b27_z
Part of the tiled wall in All Saint’s church, Margaret Street, depicting the birth of Jesus Christ. The Lord lies in the manger, looked on by his mother, the Virgin Mary, and his foster father, St. Joseph. Angels rejoice overhead and the shepherd and wise men (Magi) approach in humble adoration. – photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Saudara-saudari terkasih,

“Tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:6-7). Perkataan ini menyentuh hati kita setiap kali kita mendengarnya. Inilah saat yang telah diramalkan sang malaikat di Nazareth: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk 1:31). Inilah saat yang dinantikan Israel selama ratusan tahun, melalui banyaknya momen yang diliputi kegelapan—momen yang dinantikan semua umat manusia, namun belum terdefinisikan dengan jelas: ketika Allah mempedulikan kita, ketika Ia melangkah keluar dari persembunyian-Nya, ketika dunia akan diselamatkan dan Allah akan membaharui segala sesuatu. Kita dapat membayangkan semacam persiapan batiniah, semacam kasih yang melaluinya Maria mendekati momen tersebut. Frase singkat: “Ia membungkus-Nya dengan lampin” mengijinkan kita untuk sekilas memandang sesuatu yang merupakan sukacita suci dan semangat hening dari persiapan itu. Kain lampin telah siap, sehingga sang anak dapat diberikan sambutan yang layak. Namun tidak ada tempat di penginapan. Dalam cara tertentu, manusia menantikan Allah, menantikan Ia untuk datang mendekat. Tetapi ketika momen itu tiba, tidak ada tempat bagi-Nya. Pikiran manusia tersita dengan dirinya, ia memiliki kebutuhan mendesak lainnya yang berasal dari segala tempat dan waktu bagi perkara-perkaranya, sehingga tak ada tempat bagi yang lain—bagi sesamanya, bagi orang miskin, dan bagi Allah. Dan semakin kaya mereka, semakin mereka memenuhi tempat tersebut dengan diri mereka. Dan semakin tidak ada tempat bagi yang lain.

St. Yohanes, dalam Injilnya, segera masuk ke inti persoalan, dengan memberikan kedalaman bagi catatan singkat St. Lukas mengenai situasi di Bethlehem: “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Hal ini, pertama dan terutama, mengacu kepada Bethlehem: Putra Daud datang ke kotanya, tetapi Ia harus lahir di kandang, karena tidak ada tempat bagi-Nya di penginapan. Lalu ia mengacu kepada Israel: Ia yang diutus datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi mereka tidak menginginkan-Nya. Dan sesungguhnya hal tersebut juga mengacu kepada semua umat manusia: Ia yang melalui-Nya dunia diciptakan, Sang Sabda-Pencipta yang primordial, masuk ke dalam dunia, tetapi Ia tidak didengarkan, Ia tidak diterima.

Continue reading “Homili Malam Natal Paus Benediktus XVI: “Di Kandang Bethlehem, Surga Telah Turun Ke Bumi””

[Adven bersama Aquinas] Putra Allah Tidak Lain adalah Sabda Allah

"Jesus and the Samaritan Woman at the Well", Guercino (1641)
“Jesus and the Samaritan Woman at the Well”, Guercino (1641)

St. Thomas Aquinas (Komentar atas Syahadat Para Rasul, Art. 2)

Putra Allah tidak lain adalah Sabda Allah, bukan perkataan yang diucapkan secara lahiriah (sebab perkataan semacam ini bersifat sementara saja), melainkan perkataan yang dikandung di dalam batin. Maka, Sabda Allah ini memiliki kodrat yang sama dengan Allah dan setara dengan Allah.

Pertama-tama, kita harus mau mendengar perkataan Allah dengan suka hati… Kedua, kita harus mempercayai kata-kata-Nya… Ketiga, Sabda Allah yang tinggal di dalam diri kita harus terus-menerus kita renungkan… Keempat, kita harus membawa Sabda Allah kepada orang lain dengan cara menegur mereka, mewartakan kepada mereka, dan mengobarkan hati mereka. …Dan akhirnya, kita mesti mengamalkan Sabda Allah dalam keseharian kita: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak 1:22). Continue reading “[Adven bersama Aquinas] Putra Allah Tidak Lain adalah Sabda Allah”

[Adven bersama Aquinas] Kasih adalah Hadiah yang Pertama

"Belisarius Begging for Alms", Jacques-Louis David, 1781
“Belisarius Begging for Alms”, Jacques-Louis David, 1781

St. Thomas Aquinas (Summa Theologiae Ia, Q.38)

“Hadiah” dinamakan demikian oleh sebab kemampuannya untuk diberikan… Renungkanlah bahwa hadiah, menurut Aristoteles, secara harafiah berarti sebuah pemberian yang tidak dapat dikembalikan; dengan kata lain, hadiah diberikan tidak dengan pemikiran bahwa hadiah tersebut akan dibalas, dan dengan demikian hadiah diberikan semata-mata dari kehendak baik. Adapun dasar dari tindakan memberi yang begitu  murah hati itu ialah kasih; alasan mengapa kita memberikan sesuatu kepada orang lain secara spontan adalah karena kita menghendaki kebaikan baginya. Dengan demikian, sesungguhnya hadiah atau karunia pertama yang kita berikan adalah kasih itu sendiri, yakni kasih yang dengannya kita mengasihi orang tersebut. Maka, jelaslah bahwa kasih memiliki karakter sebagai hadiah pertama kita, sebab melalui kasih itulah kita memberikan hadiah-hadiah yang lainnya. Oleh sebab itu, karena Roh Kudus datang sebagai Sang Kasih, demikianlah Ia datang sebagai Hadiah atau Karunia yang pertama. Agustinus (De Trinitate, XV.24) mengajarkan bahwa melalui Hadiah yang adalah Roh Kudus, hadiah-hadiah lainnya dibagikan kepada setiap jemaat Kristus. Continue reading “[Adven bersama Aquinas] Kasih adalah Hadiah yang Pertama”

[Adven bersama Aquinas] Kedatangan Kristus Membawa Penciptaan Baru

tabernacle-and-painting-01

St. Thomas Aquinas (Komentar terhadap Sepuluh Perintah Allah, Art. 5, “De tertio praecepto”):

Roh Kudus mengetahui bahwa di masa depan, beberapa orang akan berkata bahwa dunia memang selalu ada dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakan. “Pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan. Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air.” (2 Pet 3:3-5) Maka dari itu, Allah berkenan bahwa satu hari dipisahkan untuk mengenang fakta bahwa Ia menciptakan segala sesuatunya dalam enam hari, dan bahwa pada hari ketujuh Ia beristirahat dari penciptaan makhluk ciptaan baru. Inilah mengapa Tuhan menuliskan perintah ini dalam Sepuluh Perintah-Nya: Kuduskanlah hari Sabat.

Bangsa Yahudi menguduskan hari Sabat untuk mengenang peristiwa penciptaan yang pertama. Tetapi Kristus, saat kedatangan-Nya, mengadakan sebuah penciptaan yang baru. Sebab oleh penciptaan yang pertama, manusia fana diciptakan, dan oleh penciptaan yang kedua, manusia yang ilahi tercipta… Penciptaan yang baru ini adalah melalui rahmat. … Continue reading “[Adven bersama Aquinas] Kedatangan Kristus Membawa Penciptaan Baru”

[Adven bersama Aquinas] Perawan yang Mulia Melebihi Para Malaikat

"The Annunciation", John William Waterhouse
“The Annunciation”, John William Waterhouse

St. Thomas Aquinas (Komentar terhadap Doa Salam Maria):

Belum pernah didengar sebelumnya tentang malaikat yang menghaturkan hormat kepada manusia, hingga salah seorang dari malaikat itu menyapa Perawan Terberkati dengan sapaan, “Salam” (Ave). Pada masa yang lampau, penghormatan ditunjukkan oleh manusia kepada malaikat, tetapi tidak oleh malaikat kepada manusia, sebab malaikat lebih agung daripada manusia… hingga satu orang manusia, dalam kodrat kemanusiaannya, ditemukan melebihi para malaikat. …

Demikianlah Perawan Maria yang Terberkati melebihi para malaikat… dalam kepenuhan rahmatnya… di dalam jiwanya berdiam rahmat yang berlimpah ruah. Sebab rahmat Allah diberikan untuk dua tujuan: untuk melakukan hal-hal baik dan menghindari kejahatan. …Setelah Kristus, Maria-lah yang begitu bebas dari dosa melebihi orang kudus manapun… Continue reading “[Adven bersama Aquinas] Perawan yang Mulia Melebihi Para Malaikat”