Homili Malam Natal Paus Benediktus XVI: “Di Kandang Bethlehem, Surga Telah Turun Ke Bumi”

3136800794_42ac9b7b27_z
Part of the tiled wall in All Saint’s church, Margaret Street, depicting the birth of Jesus Christ. The Lord lies in the manger, looked on by his mother, the Virgin Mary, and his foster father, St. Joseph. Angels rejoice overhead and the shepherd and wise men (Magi) approach in humble adoration. – photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Saudara-saudari terkasih,

“Tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:6-7). Perkataan ini menyentuh hati kita setiap kali kita mendengarnya. Inilah saat yang telah diramalkan sang malaikat di Nazareth: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk 1:31). Inilah saat yang dinantikan Israel selama ratusan tahun, melalui banyaknya momen yang diliputi kegelapan—momen yang dinantikan semua umat manusia, namun belum terdefinisikan dengan jelas: ketika Allah mempedulikan kita, ketika Ia melangkah keluar dari persembunyian-Nya, ketika dunia akan diselamatkan dan Allah akan membaharui segala sesuatu. Kita dapat membayangkan semacam persiapan batiniah, semacam kasih yang melaluinya Maria mendekati momen tersebut. Frase singkat: “Ia membungkus-Nya dengan lampin” mengijinkan kita untuk sekilas memandang sesuatu yang merupakan sukacita suci dan semangat hening dari persiapan itu. Kain lampin telah siap, sehingga sang anak dapat diberikan sambutan yang layak. Namun tidak ada tempat di penginapan. Dalam cara tertentu, manusia menantikan Allah, menantikan Ia untuk datang mendekat. Tetapi ketika momen itu tiba, tidak ada tempat bagi-Nya. Pikiran manusia tersita dengan dirinya, ia memiliki kebutuhan mendesak lainnya yang berasal dari segala tempat dan waktu bagi perkara-perkaranya, sehingga tak ada tempat bagi yang lain—bagi sesamanya, bagi orang miskin, dan bagi Allah. Dan semakin kaya mereka, semakin mereka memenuhi tempat tersebut dengan diri mereka. Dan semakin tidak ada tempat bagi yang lain.

St. Yohanes, dalam Injilnya, segera masuk ke inti persoalan, dengan memberikan kedalaman bagi catatan singkat St. Lukas mengenai situasi di Bethlehem: “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Hal ini, pertama dan terutama, mengacu kepada Bethlehem: Putra Daud datang ke kotanya, tetapi Ia harus lahir di kandang, karena tidak ada tempat bagi-Nya di penginapan. Lalu ia mengacu kepada Israel: Ia yang diutus datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi mereka tidak menginginkan-Nya. Dan sesungguhnya hal tersebut juga mengacu kepada semua umat manusia: Ia yang melalui-Nya dunia diciptakan, Sang Sabda-Pencipta yang primordial, masuk ke dalam dunia, tetapi Ia tidak didengarkan, Ia tidak diterima.

Continue reading “Homili Malam Natal Paus Benediktus XVI: “Di Kandang Bethlehem, Surga Telah Turun Ke Bumi””