Sejarah Pewartaan di Abad Pertengahan

Sts Dominic & Francis ALion

Khotbah (sermon) merupakan salah satu aspek yang menonjol dalam kehidupan orang Kristen di abad pertengahan. Khotbah merupakan sarana dalam mengajar dan membujuk orang Kristen. Pada umumnya, sebagian besar khotbah dilakukan dalam konteks liturgis, namun ada juga khotbah yang didengar oleh orang awam di luar konteks tersebut.

Apakah tujuan dari pewartaan? Menurut St. Agustinus, tujuan utama pewartaan ialah untuk mengajar para pendengarnya. Banyak khotbah yang ditujukan bagi kaum awam bertujuan untuk mengajarkan ortodoksi, membantah kesesatan, dan menunjukkan bahaya paganisme. Selain itu, melalui khotbah, diharapkan agar mereka bertobat dan melakukan karya kasih.

Secara menyeluruh, tujuan utama seorang pewarta yang berkhotbah ialah untuk menggerakkan pendengarnya agar mengalami pertobatan hati yang mengubah hidupnya. Seorang pewarta yang ideal haruslah mendidik pendengarnya agar memahami penafsiran Kitab Suci yang tepat, serta membimbing mereka melakukan tindakan yang benar melalui kata dan perbuatan.

Para cendekiawan secara umum membagi khotbah menjadi dua kategori, yakni homilia (homili) dan sermo (yang saya artikan sebagai khotbah). Homili biasanya berisi tentang penjelasan dan komentar ayat-ayat Kitab Suci, baik per kata atau kalimat, secara berurutan. Sermo sedikit berbeda dari homili, secara umum sermo berfokus pada tema yang dikembangkan dari teks Kitab Suci. Tema tersebut bisa diambil dari perayaan liturgis, baik hari minggu tertentu, atau bisa juga hari raya santo/a, serta pada kesempatan khusus seperti pemakaman orang mati.

Bentuk-bentuk khotbah patristik sebenarnya cukup bervariasi, hal ini terlihat dari berbagai istilah seperti homilia, exhortatio, admonitio, tractactus, sermo. Namun pada abad ke-12, istilah sermo yang semakin mendominasi dan mengalahkah istilah lainnya.

Warisan Bapa Gereja dalam Pewartaan Abad Pertengahan

Pope Urban II at the Council of Clermont (1095), where he preached the First Crusade; later manuscript illumination of c. 1490Pewarta abad pertengahan menyusun sermo mereka berlandaskan pada karya teologis dan retoris Bapa Gereja. Dua tokoh Bapa Gereja yang sangat berperngaruh dalam penyusunan struktur dan konten sermo saat itu adalah St. Agustinus dari Hippo dan St. Gregorius Agung.

St. Agustinus menjelaskan bahwa dalam menjelaskan simbol-simbol biblis, para pendengar harus dididik dalam hal apa yang baik dan yang jahat, sedangkan St. Gregorius lebih menekankan pada pengajaran ortodoksi teologis. Ia memberikan perhatian khusus pada identitas pewarta sebagai seorang pastor, gembala bagi kawanan dombanya, yang harus menjalankan hidupnya sesuai dengan apa yang dikatakannya. Dengan demikian, kawanan domba yang meneladani gembalanya, dapat meniru teladan hidup yang diperlihatkan daripada kata-katanya.

Persamaan di antara St. Agustinus dan Gregorius ialah mereka menyadari adanya perbedaan di antara para pendengarnya. Jadi, perkataan yang sama dapat didengar dan diartikan secara berbeda oleh orang yang berbeda juga.

Continue reading “Sejarah Pewartaan di Abad Pertengahan”

Pandangan St. Agustinus tentang Pewartaan

St. Augustine preaching before Valere, Bishop of Hippo

“Tak diragukan lagi, ia adalah seorang yang tandus, yang mewartakan Sabda Allah secara lahiriah tanpa mendengarnya secara batiniah.” – St. Agustinus

Mari kita mengarahkan perhatian kita kepada salah satu Bapa Gereja Barat yang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pewartaan: St. Agustinus dari Hippo. St. Agustinus menulis sebuah buku yang berjudul Mengenai Ajaran Kristen, yang terdiri dari empat buku: buku I-III membahas tentang cara memahami dan menafsirkan Kitab Suci, sedangkan buku keempat berbicara tentang bagaimana menyampaikan kebenaran, dengan kata lain, buku keempat ini banyak berbicara tentang pewartaan baik itu secara prinsip maupun praktik.

Tiga Fungsi Pewartaan Menurut St. Agustinus

“Seorang orator ulung dengan benar berkata bahwa “seseorang yang fasih berbicara harus berbicara untuk mengajar, memberikan kesenangan, dan membujuk.” Lalu ia menambahkan: “Mengajar adalah keharusan, memberikan kesenangan merupakan keindahan, membujuk merupakan sebuah kemenangan”.” – St. Agustinus

Menurut St. Agustinus, terdapat tiga fungsi pewartaan: untuk mengajar, memberikan kesenangan, dan membujuk.

Vergós_Group_-_Saint_Augustine_Disputing_with_the_Heretics_-_Google_Art_ProjectFungsi pengajaran menegaskan bahwa seorang pewarta, harus menafsirkan dan menjaga kebenaran ilahi yang ia temukan dalam Kitab Suci, sekaligus juga menghancurkan kesesatan yang ada. Hal ini terlihat jelas dalam homili St. Agustinus, yaitu bahwa ia tidak hanya menjelaskan apa yang benar, tetapi seringkali ia juga menghancurkan kesesatan yang ia temui, misalnya kesesatan Donatisme. Mengajar merupakan sebuah keharusan karena seseorang tidak dapat bertindak bila ia tidak mengetahui apa yang benar yang harus dilakukan.

Mengajar juga berarti bahwa kebenaran yang disampaikan haruslah mudah dimengerti. Oleh karena itu, hendaknya cara penyampaian yang rumit dan ambigu harus dihindari sehingga pendengar dapat memperoleh pemahaman yang sama. St. Agustinus menempatkan fungsi pengajaran ini sebagai prioritas utama dalam pewartaan. Ia berkata:

“Untuk apa sebuah kunci yang terbuat dari emas, bila ia tidak dapat membuka apa yang ia inginkan untuk dibuka? Atau keberatan apa yang harus kita ajukan kepada kunci yang terbuat dari kayu, bila ia dapat membuka apa yang ditutup, dan inilah yang kita inginkan?”

Dengan kata lain, kebenaran yang disampaikan pewarta itu bagaikan kunci yang seharusnya dapat membuka pintu hati manusia, sehingga ia dapat berdiam di dalamnya. Akan lebih baik bila kebenaran memang disampaikan dengan cara yang indah, namun apabila seseorang tidak memiliki talenta dalam hal ini, hendaknya rasa cinta terhadap kebenaranlah yang diutamakan dan bukan bagaimana seharusnya kebenaran itu disampaikan.

Continue reading “Pandangan St. Agustinus tentang Pewartaan”