Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Albertus Agung

This painting of St. Albert the Great is on the ceiling of Santa Maria dell'Anima in Rome. Photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.
This painting of St. Albert the Great is on the ceiling of Santa Maria dell’Anima in Rome. Photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Saudara-saudari terkasih,

Salah satu guru besar teologi abad pertengahan adalah St. Albertus Agung. Gelar “Agung” (Magnus), yang telah dimasukkan ke dalam sejarah, menunjukkan betapa luas dan dalam pengajarannya, yang dipadukan dengan kekudusan hidup. Sekalipun demikian, rekan sezamannya tidak ragu untuk mengatributkan kepadanya gelar-gelar yang menampilkan keunggulan lainnya. Salah satu muridnya, Ulric dari Strasbourg, memanggil dia “kekaguman dan keajaiban zaman kita”.

Ia lahir di Jerman pada permulaan abad 13. Ketika ia masih muda, ia pergi ke Italia, ke Padua, tempat salah satu universitas abad pertengahan paling terkenal. Ia membaktikan dirinya bagi studi yang disebut “liberal arts”: grammar, retorika, dialektik, aritmatika, geometri, astronomi, dan musik, yaitu studi budaya secara umum, yang menunjukkan minat karakteristik dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences) yang segera menjadi bidang spesialisasi favoritnya. Selama menetap di Padua, ia menghadiri Gerejanya kaum Dominikan, selanjutnya ia bergabung dengan Ordo Dominikan melalui pengucapan kaul religius (profession of the religious vows). Sumber-sumber hagiografis menunjukkan bahwa Albertus tiba pada keputusan ini secara bertahap. Relasinya yang intens dengan Allah, teladan kekudusan dari pada saudara Dominikan, khotbah Beato Yordan dari Saxony yang didengarnya, yakni penerus Master Jendral Ordo Pewarta, merupakan faktor-faktor penentu yang membantunya mengatasi setiap keraguan dan bahkan mengatasi perlawanan dari keluarganya. Allah sering kali berbicara pada kita dalam masa muda kita dan menunjukkan pada kita rencana kehidupan kita. Demikian pula bagi Albertus dan bagi kita semua, sarana yang diperlukan untuk menemukan dan mengikuti suara Allah adalah doa pribadi, yang diperkaya dengan Sabda Tuhan, penerimaan Sakramen dengan lebih sering, serta bimbingan rohani dari orang-orang yang diterangi Allah. Ia menerima jubah religius dari Beato Yordan dari Saxony.

Setelah tahbisan imamatnya, superiornya mengutusnya untuk mengajar di berbagai pusat studi teologis yang disatukan dengan biara para Imam Dominikan. Kualitas intelektualnya yang cemerlang memampukan ia menyempurnakan studi teologisnya di universitas paling terkenal pada masa itu, yakni Universitas Paris. Sejak saat itu, St. Albertus memulai aktivitas luar biasanya sebagai penulis, yang tetap dilakukannya sepanjang hidupnya.

Continue reading “Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Albertus Agung”

9 Hal yang Layak Kita Ketahui tentang St. Rosa dari Lima

Santa_Rosa_de_Lima_Ebrafol
Santa Rosa dari Lima (Rosa de Lima, Rose of Lima) merupakan salah satu orang kudus Dominikan yang paling cemerlang namun juga rumahan. Santa Rosa tidak pernah keluar dari negerinya, Peru, seperti halnya Santo Dominikus dan Santa Katarina dari Siena; ia mewartakan kerahiman dan kebenaran Allah di sekitar lingkungan rumahnya sendiri. Ia seorang Latina yang ceria dan bersemangat, disenangi oleh berbagai kalangan namun pada saat yang sama mengalami banyak salah pengertian oleh orang-orang.

Berikut adalah sembilan fakta menarik yang layak kita ketahui tentang Santa Rosa, disarikan dari biografi St. Rose of Lima karangan Sister Mary Alphonsus, O.SS.R.

1. Santa Rosa adalah seorang criolla.

Rosa lahir di Peru dalam era kolonisasi Spanyol abad ke-16. Seperti yang lumrah terjadi di tanah koloni, kawin campur menciptakan berbagai golongan etnis masyarakat. Pada waktu itu, di Amerika Latin terdapat tiga etnis besar yaitu Spaniard (ras Spanyol asli) yang berkulit putih, Indian Amerika yang berkulit merah, dan Afrika yang berkulit hitam. Etnis Spaniard sendiri terbagi dua kasta, yaitu orang-orang Peninsular (Spaniard yang lahir di Spanyol) dan orang-orang criollo (Spaniard yang lahir di tanah koloni).

Sebagai seorang criolla, Santa Rosa berada di kasta yang cukup tinggi meskipun bukan yang paling tinggi. Oleh karena itu, persahabatannya dengan pembantu rumah tangga bernama Mariana (seorang Indian asli) dan dengan Santo Martin de Porres, seorang mulato (campuran Spaniard dan Afrika) menjadi hal yang mengherankan pada masanya, karena ketiganya berbeda kasta cukup jauh.

2. Nama “Rosa” menjadi salah satu sumber pertengkaran keluarga.

Nama asli Santa Rosa sesungguhnya adalah Isabel, sesuai dengan nama sang nenek. Ibu Rosa, Oliva, memberi nama demikian untuk menenangkan temperamen Isabel Senior yang pemarah. Tetapi saat Isabel Junior masih bayi, terjadi mukjizat berupa penampakan bunga mawar di atas kepalanya. Oliva menyadari hal tersebut sebagai tanda surgawi bahwa putrinya harus diberi nama Rosa.

Perubahan nama ini menyulut amarah sang nenek. Selama beberapa tahun pertama hidupnya, Rosa/Isabel dipanggil dengan dua nama yang berbeda. Rosa/Isabel dengan senang hati menjawab kedua panggilan itu, dan ini membuat nenek dan ibunya sering bertengkar. Barulah ketika ia menerima Sakramen Krisma dengan nama Rosa, sang nenek akhirnya mengalah karena ia mengakui kuasa Gereja yang berkehendak memanggil cucunya Rosa, bukan Isabel.

3. Santa Rosa adalah sahabat karib Santo Martin de Porres dan dibaptis oleh Santo Toribio.

Rosa kecil sudah menjalin persahabatan dengan Martin kecil. Meski Martin seorang mulato, orangtua Rosa menganggapnya sebagai pemuda yang baik sehingga mengizinkan keduanya bermain bersama. Setelah Martin masuk biara sebagai seorang cooperator brother Ordo Dominikan, keduanya masih sering bertemu di sakristi seusai Misa untuk berbincang-bincang. Bagi Rosa, tidak ada orang lain yang dapat memahami perjalanan hidup rohaninya yang unik selain Martin, dan Martin hanya mempercayakan kisah-kisah mukjizatnya pada Rosa. Selain itu, Martin, yang pernah dilatih oleh seorang dokter bedah, juga mengajari Rosa ilmu kedokteran dan obat-obatan.

Tidak hanya itu, Rosa kecil dibaptis dan dikrisma oleh seorang uskup suci, yaitu Santo Toribio (Turibius) Alfonso de Mogrovejo. Uskup Toribio dikaruniai kemampuan melihat kedalaman jiwa manusia, dan ialah orang pertama yang mampu “melihat” bakal kekudusan Rosa. Di sini kita belajar bagaimana persahabatan kudus dengan orang sama-sama mencintai Allah sangat penting dalam hidup rohani seorang Katolik.

Continue reading “9 Hal yang Layak Kita Ketahui tentang St. Rosa dari Lima”

Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Katarina dari Siena

Photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.
Photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini saya ingin berbicara tentang seorang wanita yang memainkan peran utama dalam sejarah Gereja: St. Katarina dari Siena. Abad ke-14 pada masa itu merupakan periode yang mengguncang kehidupan Gereja dan di seluruh konteks sosial Italia dan Eropa. Namun, bahkan dalam masa-masa tersulit sekalipun, Tuhan tak berhenti untuk memberkati umat-Nya, ia memunculkan orang-orang kudus yang menghentak pikiran dan hati, menggugah pertobatan dan pembaruan.

Katarina merupakan salah satunya dan hari ini ia masih berbicara pada kita dan mendorong kita untuk berjalan dengan berani menuju kekudusan, untuk menjadi murid Tuhan yang lebih utuh.

Lahir di Siena tahun 1347 dalam keluarga yang sangat besar, ia meninggal di Roma tahun 1380. Ketika Katarina berusia 16 tahun, ia termotivasi oleh penglihatannya akan St. Dominikus, ia masuk ke dalam Ordo Ketiga Dominikan cabang wanita yang dikenal dengan nama Mantellate. Ketika tinggal di rumah, ia menegaskan kaul keperawanan yang ia nyatakan secara pribadi ketika ia masih remaja dan membaktikan dirinya bagi doa, silih dan karya kasih, khususnya demi keuntungan orang-orang sakit.

Ketika ketenaran kekudusannya menyebar, ia menjadi tokoh utama dalam aktivitas bimbingan rohani yang intens bagi banyak orang dari segala kalangan: bangsawan dan politisi, seniman dan orang biasa, pria dan wanita hidup bakti serta kaum religius, termasuk Paus Gregoris XI yang tinggal di Avignon pada masa itu, dan yang kepadanya ia dengan penuh semangat dan efektif mendesak sang paus kembali ke Roma.

Ia mengadakan perjalanan secara luas demi pembaruan internal Gereja dan mendukung perdamaian di antara negara-negara. Untuk alasan ini juga Paus Yohanes Paulus II yang terhormat memutuskan untuk menyatakan dirinya sebagai Rekan Pelindung Eropa: semoga Benua Lama tak pernah melupakan akar Kristennya, yang merupakan asal usul perkembangannya dan terus menimba nilai-nilai hakiki dari Injil yang menjamin keadilan dan harmoni.

Continue reading “Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Katarina dari Siena”

Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Thomas Aquinas (Bagian III – Selesai)

Vision of St Thomas Aquinas by Santi di Tito, 1593.
Vision of St Thomas Aquinas by Santi di Tito, 1593.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini saya ingin menyelesaikan katekese tentang St. Thomas Aquinas. Bahkan lebih dari 700 tahun setelah kematiannya kita dapat belajar banyak darinya. Pendahulu saya, Paus Paulus VI, juga mengatakan hal ini, dalam Diskursus yang ia berikan di Fossanova pada 14 September 1974 dalam rangka memperingati 700 tahun kematian St. Thomas. Ia bertanya pada dirinya: “Thomas, Guru kami, pelajaran apa yang dapat kau berikan pada kami?” Dan ia menjawab dengan perkataan: “Percayalah dalam kebenaran pemikiran religius Katolik, sebagaimana yang dibela, dijelaskan, dan dipersembahkan olehnya bagi kapasitas pikiran manusia” (Address in honour of St Thomas Aquinas in the Basilica, 14 September 1974; L’Osservatore Romano English edition, [ore], 26 September 1974, p. 4). Pada hari yang sama, dengan mengacu pada St. Thomas, Paulus VI berkata “kita semua putra dan putri Gereja yang setia, dapat dan harus menjadi muridnya, setidaknya sampai tahap tertentu” (Address to people in the Square at Aquino, 14 September 1974; ORE, p. 5).

Marilah kita juga belajar dari pengajaran St. Thomas, dan dari karya agungnya, Summa Theologiae. Karya ini tidak selesai, namun ini adalah karya yang luar biasa: di dalamnya terdapat 512 pertanyaan dan 2.669 artikel. Ia terdiri dari penalaran terpusat yang mana pikiran manusia diterapkan bagi misteri iman, dengan kejernihan dan kedalaman bagi misteri iman, pertanyaan dan jawaban saling berganti yang mana St. Thomas mendalami pengajaran yang berasal dari Kitab Suci dan Bapa Gereja, secara khusus St. Agustinus. Dalam refleksi ini, dalam menjumpai pertanyaan sejati di masanya, St. Thomas, juga dengan menggunakan metode dan pemikiran filsuf kuno, dan Aristoteles secara khusus, ia tiba pada rumusan kebenaran iman yang tepat, jelas dan relevan, yang mana kebenaran adalah karunia iman yang bersinar dan terjangkau bagi kita, bagi permenungan kita. Namun, Aquinas sendiri mengingatkan kita denganhidupnya bahwa upaya pikiran manusia ini selalu diterangi oleh doa, oleh terang yang datang dari tempat tinggi. Hanya mereka yang hidup bersama Allah dan dengan misteri-misteri-Nya dapat memahami apa yang mereka katakan pada kita.

Dalam Summa Theologiae, St. Thomas memulai dari kenyataan bahwa Allah memiliki tiga cara untuk ada (being) dan mengada (existing): Allah ada dalam diri-Nya, ia adalah awal dan akhir segala sesuatu, dan inilah alasan mengapa semua ciptaan berasal dari-Nya dan bergantung pada-Nya: selanjutnya Allah hadir melaui rahmat-Nya dalam hidup dan aktivitas orang Kristen, orang Kudus; terakhir, Allah hadir dalam cara yang khusus dalam pribadi Kristus, Ia sungguh disatukan dengan Yesus-Manusia, dan aktif dalam sakramen-sakramen yang bersumber dari karya penebusan-Nya. Jadi, struktur karya monumental ini (cf. Jean-Pierre Torrell, La “Summa” di San Tommaso, Milan 2003, pp. 29-75), sebuah pencarian dengan “visi teologis” bagi kepenuhan Allah (cf. Summa Theologiae, Ia q. 1, a. 7), terbagi ke dalam tiga bagian, dan digambarkan oleh Doctor Communis itu sendiri. St. Thomas mengawali dengan perkataan ini: “Karena tujuan utama ajaran suci adalah untuk mengajarkan pengetahuan akan Allah, tidak hanya sebagaimana Ia ada dalam diri-Nya, tetapi jgua sebagaimana Ia adalah awal segala sesuatu dan tujuan akhir mereka, dan secara khusus mengenai ciptaan rasional, jelas sekali dari apa yang telah dikatakan, maka, kita akan membahas: (1) mengenai Allah; (2) mengenai pergerakan ciptaan rasional menuju Allah; (3) mengenai Kristus, yang sebagai manusia, adalah jala kita menuju Allah” (ibid.,I, q. 2). Ini adalah lingkaran: Allah dalam diri-Nya, yang keluar dari diri-Nya dan menggenggam kita dengan tangan-Nya, dalam cara yang sedemikian bersama Kristus, kita kembali kepada Allah, kita disatukan kepada Allah, dan Allah akan menjadi segala hal bagi semua orang.

Continue reading “Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Thomas Aquinas (Bagian III – Selesai)”

Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Thomas Aquinas (Bagian II)

Our Dominican brother, St Thomas Aquinas - whose feast is today (28 January) - is shown holding the Eucharist as he not only composed the liturgy for the feast of Corpus Christi, but wrote exceedingly well about the Church's faith in the Eucharist and the abiding Presence of Christ in the Most Blessed Sacrament of the Altar. This is a detail from the reredos in the former Dominican priory church of Hawkesyard in Staffordshire. The church was dedicated to St Thomas Aquinas. - photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.
Our Dominican brother, St Thomas Aquinas – whose feast is today (28 January) – is shown holding the Eucharist as he not only composed the liturgy for the feast of Corpus Christi, but wrote exceedingly well about the Church’s faith in the Eucharist and the abiding Presence of Christ in the Most Blessed Sacrament of the Altar. This is a detail from the reredos in the former Dominican priory church of Hawkesyard in Staffordshire. The church was dedicated to St Thomas Aquinas. – photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini saya ingin melanjutkan ulasan mengenai St. Thomas Aquinas, seorang teolog yang demikian berharga sehingga studi tentang pemikirannya secara eksplisit direkomendasikan oleh Konsili Vatikan II dalam dua dokumen, Dekrit, Optatam Totius mengenai Pelatihan Para Imam, dan Deklrarasi Gravissimum Educationis, tentang Edukasi Kristen. Memang, sudah sejak 880 Paus Leo XIII, yang sangat menjunjung Thomas sebagai pembimbing dan mendorong studi thomistik, menyatakan ia sebagai pelindung sekolah dan universitas Katolik.

Alasan utama untuk penghargaan ini tidak hanya dijelaskan melalui isi pengajarannya tetapi juga metode yang ia gunakan, khususnya sintesis baru dan distingsi antara filosofi dan teologi. Bapa-Bapa Gereja dihadapkan oleh filosofi yang berbeda, semacam filosofi Platonis yang menguraikan sebuah visi yang lengkap tentang dunia dan kehidupan, termasuk subjek mengenai Allah dan agama. Sebagai perbandingan dengan filosofi ini, mereka sendiri telah mengerjakan sebuah visi akan realita yang utuh, yang bermula dari iman dan menggunakan unsur-unsur Platonisme untuk menanggapi pertanyaan hakiki seputar pria dan wanita. Mereka menyebut visi ini, berdasarkan wahyu biblis dan dirumuskan dengan Platonisme yang benar dalam terang iman, sebagai “filosofi kami.” Kata “filosofi” bukanlah ungkapan sistem yang murni rasional, dan dengan demikian terpisah dari iman, melainkan ia menandakan visi akan realita yang komprehensif, yang dibangun dalam terang iman tetapi digunakan dan dipahami oleh akal budi; sebuah visi yang secara kodrati melampaui kapasitas yang layak bagi akal budi tetapi juga memenuhinya. Bagi St. Thomas, perjumpaan dengan filosofi pra-Kristen Aristoteles (yang wafat sekitar tahun 322 BC) membuka sebuah perspektif baru. Filosofi aristotelian jelas merupakan filosofi yang dilakukan tanpa pengetahuan akan Perjanjian Lama dan Baru, sebuah penjelasan tentang dunia tanpa wahyu dan hanya melalui akal budi semata. Dan rasionalitas yang konsekuen ini terlihat meyakinkan. Maka bentuk lama dari “filosofi kami” para Bapa Gereja tak lagi berperan. Relasi antara filosofi dan teologi, antara iman dan akal budi, perlu dipikirkan ulang. Sebuah “filosofi” eksis, yaitu filosofi yang utuh dan meyakinkan dalam dirinya, sebuah rasionalitas yang mendahului iman, diikuti oleh “teologi”, suatu bentuk pemikiran bersama iman dan dalam iman. Pertanyaan yang mendesak adalah ini: apakah alam rasionalitas, filosofi yang dipahami tanpa Kristus, dan dunia iman, keduanya selaras? Atau apakah keduanya saling bertentangan atau tak dapat ada secara bersamaan? Unsur-unsur yang menegaskan ketidakcocokan dari dua dunia ini tidaklah kurang, tetapi St. Thomas dengan teguh meyakini keselarasan mereka, dan memang, filosofi yang dilakukan tanpa pengetahuan akan Kristus sedang menanti, seolah-olah, menanti terang Yesus agar ia disempurnakan. Inilah “kejutan” besar St. Thomas yang menentukan jalan yang ia ambil sebagai seorang pemikir. Menunjukkan independensi filosofi dan teologi, dan pada saat yang sama, menampilkan relasionalitas filosofi dan teologi yang timbal balik, inilah misi historis sang guru besar. Dan dengan demikian dapat dipahami bahwa pada abad 19, ketika ketidakcocokan akal budi modern dan iman dinyatakan dengan kuat, Paus Leo XIII menunjuk St. Thomas sebagai pemandu dalam dialog di antara mereka. Dalam karya teologisnya, St. Thomas mengandaikan dan mengkonkretkan relasionalitas ini. Iman menguatkan, menyatukan dan menerangi warisan kebenaran yang diperoleh akal budi. Kepercayaan yang diberikan St. Thomas pada dua instrumen pengetahuan iman dan akal budi dapat ditelusuri sampai pada keyakinan bahwa keduanya berasal dari satu sumber segala kebenaran: Logos ilahi, yang aktif dalam kedua konteks, yaitu konteks Penciptaan dan Penebusan.

Continue reading “Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Thomas Aquinas (Bagian II)”

Ucapan Natal dari Fra Angelico, O.P. (1387-1455)

Fra Angelico - Nativity
Nativity Scene by Bl. John of Fiesole, O.P. (Fra Angelico)

Salam dariku. Aku adalah sahabatmu, dan kasihku padamu amat mendalam.

Tidak ada yang dapat kuberikan yang belum kamu miliki, tetapi banyak sekali yang, walau aku tidak dapat memberikannya, namun kamu dapat menerimanya.

Surga takkan pernah datang kepada kita kecuali hati kita menemukan peristirahatannya pada hari ini.

Terimalah surga itu.

Tidak ada damai di masa depan yang tidak tersembunyi dalam momen kecil yang berharga ini.

Terimalah damai itu.

Kemuraman dunia ini tidak lain hanyalah bayang-bayang. Di baliknya, masih dalam jangkauan kita, adalah sukacita. Masih ada terang dan keberanian dalam kegelapan ini, dan untuk melihatnya, kita hanya perlu mencarinya.

Hidup itu murah hati, tetapi kita sering menilai karunia-karunianya melalui bungkusnya, dan kita membuangnya apabila karunia itu tampak jelek, berat, atau sulit. Tetapi singkirkan pembungkusnya, dan kamu akan menemukan kecemerlangan yang hidup, yang ditenun dari kasih, kebijaksanaan, dan kekuatan. Sambutlah ia, sapalah, dan kamu akan menyentuh tangan sang malaikat yang membawanya kepadamu.

Segala hal yang kita sebut pencobaan, dukacita, dan tanggung jawab, percayalah, tangan malaikat ada di sana, karunia itu ada di sana, juga keajaiban Kehadiran Ilahi yang mengatasi semua.

Bahkan, janganlah kita berpuas diri dengan sukacita kita. Sukacita itu pun menyembunyikan karunia-karunia yang lebih luhur lagi.

Hidup itu penuh makna dan tujuan, penuh keindahan di balik pembungkusnya. Kamu akan melihat bagaimana bumi sesungguhnya menyembunyikan surgamu.

Maka, beranilah untuk menyambut itu semua! Beranilah, dan ketahuilah bahwa kita adalah peziarah yang sedang dalam perjalanan pulang, mengarungi negeri asing menuju rumah kita.

Karena itu, pada masa Natal ini, aku menyapamu, bukan seperti dunia ini menyapa, tetapi dengan hormat mendalam sekarang dan selama-lamanya.

Fajar merebak dan kegelapan bayang-bayang pun enyah.

[Adven bersama Aquinas] Putra Allah Tidak Lain adalah Sabda Allah

"Jesus and the Samaritan Woman at the Well", Guercino (1641)
“Jesus and the Samaritan Woman at the Well”, Guercino (1641)

St. Thomas Aquinas (Komentar atas Syahadat Para Rasul, Art. 2)

Putra Allah tidak lain adalah Sabda Allah, bukan perkataan yang diucapkan secara lahiriah (sebab perkataan semacam ini bersifat sementara saja), melainkan perkataan yang dikandung di dalam batin. Maka, Sabda Allah ini memiliki kodrat yang sama dengan Allah dan setara dengan Allah.

Pertama-tama, kita harus mau mendengar perkataan Allah dengan suka hati… Kedua, kita harus mempercayai kata-kata-Nya… Ketiga, Sabda Allah yang tinggal di dalam diri kita harus terus-menerus kita renungkan… Keempat, kita harus membawa Sabda Allah kepada orang lain dengan cara menegur mereka, mewartakan kepada mereka, dan mengobarkan hati mereka. …Dan akhirnya, kita mesti mengamalkan Sabda Allah dalam keseharian kita: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak 1:22). Continue reading “[Adven bersama Aquinas] Putra Allah Tidak Lain adalah Sabda Allah”