Bunda Maria dan Ordo Dominikan

Sudah diketahui oleh umum bahwa setiap Orang Kudus Katolik yang luar biasa memiliki devosi yang luar biasa kepada Bunda Maria. Akan tetapi ada hal-hal lain yang menunjukkan bahwa betapa demikian khusus dan istimewanya relasi Bunda Maria dengan Ordo Dominikan.

73_patrocinio_virgen_orden_(manto)_misal_diario_dominicano_1958

ORDO DOMINIKAN ADALAH BUAH DARI DOA BUNDA MARIA

Suatu ketika seorang rahib yang saleh mengalami ekstasi selama tiga hari tiga malam. Dimana pada saat ekstasi, rahib tersebut melihat Bunda Maria selama tiga hari berlutut dan mengatupkan tangan memohon kepada Putera-nya, Yesus, meminta waktu agar jangan memberikan hukuman sebelum umat manusia bertobat. Selama tiga hari itu pula Yesus hanya terdiam, sampai akhirnya berkata kepada ibu-Nya : “Ibu-Ku, apa yang dapat, atau apa yang aku harus laku- kan lagi untuk umat manusia ? Aku mengirimkan mereka Bapa bangsa (patriarch) untuk menyelamatkan jiwa mereka, dan mereka hanya mendengarkan pemimpin mereka untuk sementara waktu. Aku mengirimkan mereka nabi-nabi, dan hanya sebentar saja mereka bertobat. Setelah aku datang ke dunia dan mengirimkan murid-murid-Ku, mereka menyalibkan Aku dan membunuh murid-murid-Ku. Aku mengirimkan mereka para martir, bapa pengakuan, para doktor Gereja dan banyak lagi lainnya dan mereka (umat manusia) tetap tidak mendengarkan mereka yang aku kirim. Akan tetapi, tidak selayaknya Aku menolak permintaanmu, Aku akan mengirimkan para pengkotbah untuk memberikan pencerahan dan memperbaiki umat manusia.”

Beberapa tahun kemudian, rahib tersebut melihat dan mendengarkan dua orang Dominikan yang sedang berkotbah dan mengenali bahwa Ordo Pengkotbah inilah yang merupakan para pengkotbah yang dikirimkan oleh Tuhan atas permintaan Bunda-Nya.

Vision Sprinkling

BUNDA MARIA MEMBERKATI ANGGOTA ORDO DOMINIKAN

Pada suatu ketika, Santo Dominikus melewati malam dengan berdoa di gereja. Setelah tengah malam, Santo Dominikus meninggalkan gereja dan masuk ke dalam asrama. Setelah memeriksa saudara-saudaranya yang tengah beristirahat, Santo Dominikus melanjutkan doanya di pintu depan asrama. Ketika sedang berdoa, Santo Dominikus melihat ke ujung lain lorong asrama dan melihat tiga wanita yang elok sedang berjalan ke arah Santo Dominikus dan terlihat salah satu wanita yang ditengah lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan kedua wanita lainnya. Salah satu dari wanita pendamping membawa tempat air suci yang indah sedangkan yang lainnya membawa alat pemercik yang lalu diserahkannya kepada wanita yang ditengah. Wanita ini berjalan sambil memercikan air suci dan memberkati para anggota Ordo yang sedang beristirahat, akan tetapi wanita ini melewati salah satu anggota dengan tanpa memerciki air suci maupun memberikan berkat. Santo Dominikus memperhatikan dengan seksama semua yang terjadi. Wanita yang ditengah berkata kepada Santo Dominikus : “Akulah yang engkau panggil di malam hari ketika engkau berdoa : Ya Ibunda, ya penolong kami, dengan mata yang memancarkan kasihan pandanglah kami; aku bersujud dihadapan Putera-ku agar melindungi Ordo ini.” Santo Dominikus lalu bertanya mengenai saudaranya yang tidak diperciki dan tidak diberkati oleh wanita tersebut, dan wanita itu menjawab bahwa orang tersebut tidaklah layak. Setelah itu, wanita tersebut melanjutkan dengan memerciki air suci dan memberkati semua anggota lainnya lalu menghilang.

Continue reading “Bunda Maria dan Ordo Dominikan”

Sejarah Pewartaan di Abad Pertengahan

Sts Dominic & Francis ALion

Khotbah (sermon) merupakan salah satu aspek yang menonjol dalam kehidupan orang Kristen di abad pertengahan. Khotbah merupakan sarana dalam mengajar dan membujuk orang Kristen. Pada umumnya, sebagian besar khotbah dilakukan dalam konteks liturgis, namun ada juga khotbah yang didengar oleh orang awam di luar konteks tersebut.

Apakah tujuan dari pewartaan? Menurut St. Agustinus, tujuan utama pewartaan ialah untuk mengajar para pendengarnya. Banyak khotbah yang ditujukan bagi kaum awam bertujuan untuk mengajarkan ortodoksi, membantah kesesatan, dan menunjukkan bahaya paganisme. Selain itu, melalui khotbah, diharapkan agar mereka bertobat dan melakukan karya kasih.

Secara menyeluruh, tujuan utama seorang pewarta yang berkhotbah ialah untuk menggerakkan pendengarnya agar mengalami pertobatan hati yang mengubah hidupnya. Seorang pewarta yang ideal haruslah mendidik pendengarnya agar memahami penafsiran Kitab Suci yang tepat, serta membimbing mereka melakukan tindakan yang benar melalui kata dan perbuatan.

Para cendekiawan secara umum membagi khotbah menjadi dua kategori, yakni homilia (homili) dan sermo (yang saya artikan sebagai khotbah). Homili biasanya berisi tentang penjelasan dan komentar ayat-ayat Kitab Suci, baik per kata atau kalimat, secara berurutan. Sermo sedikit berbeda dari homili, secara umum sermo berfokus pada tema yang dikembangkan dari teks Kitab Suci. Tema tersebut bisa diambil dari perayaan liturgis, baik hari minggu tertentu, atau bisa juga hari raya santo/a, serta pada kesempatan khusus seperti pemakaman orang mati.

Bentuk-bentuk khotbah patristik sebenarnya cukup bervariasi, hal ini terlihat dari berbagai istilah seperti homilia, exhortatio, admonitio, tractactus, sermo. Namun pada abad ke-12, istilah sermo yang semakin mendominasi dan mengalahkah istilah lainnya.

Warisan Bapa Gereja dalam Pewartaan Abad Pertengahan

Pope Urban II at the Council of Clermont (1095), where he preached the First Crusade; later manuscript illumination of c. 1490Pewarta abad pertengahan menyusun sermo mereka berlandaskan pada karya teologis dan retoris Bapa Gereja. Dua tokoh Bapa Gereja yang sangat berperngaruh dalam penyusunan struktur dan konten sermo saat itu adalah St. Agustinus dari Hippo dan St. Gregorius Agung.

St. Agustinus menjelaskan bahwa dalam menjelaskan simbol-simbol biblis, para pendengar harus dididik dalam hal apa yang baik dan yang jahat, sedangkan St. Gregorius lebih menekankan pada pengajaran ortodoksi teologis. Ia memberikan perhatian khusus pada identitas pewarta sebagai seorang pastor, gembala bagi kawanan dombanya, yang harus menjalankan hidupnya sesuai dengan apa yang dikatakannya. Dengan demikian, kawanan domba yang meneladani gembalanya, dapat meniru teladan hidup yang diperlihatkan daripada kata-katanya.

Persamaan di antara St. Agustinus dan Gregorius ialah mereka menyadari adanya perbedaan di antara para pendengarnya. Jadi, perkataan yang sama dapat didengar dan diartikan secara berbeda oleh orang yang berbeda juga.

Continue reading “Sejarah Pewartaan di Abad Pertengahan”