Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Thomas Aquinas (Bagian III – Selesai)

Vision of St Thomas Aquinas by Santi di Tito, 1593.
Vision of St Thomas Aquinas by Santi di Tito, 1593.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini saya ingin menyelesaikan katekese tentang St. Thomas Aquinas. Bahkan lebih dari 700 tahun setelah kematiannya kita dapat belajar banyak darinya. Pendahulu saya, Paus Paulus VI, juga mengatakan hal ini, dalam Diskursus yang ia berikan di Fossanova pada 14 September 1974 dalam rangka memperingati 700 tahun kematian St. Thomas. Ia bertanya pada dirinya: “Thomas, Guru kami, pelajaran apa yang dapat kau berikan pada kami?” Dan ia menjawab dengan perkataan: “Percayalah dalam kebenaran pemikiran religius Katolik, sebagaimana yang dibela, dijelaskan, dan dipersembahkan olehnya bagi kapasitas pikiran manusia” (Address in honour of St Thomas Aquinas in the Basilica, 14 September 1974; L’Osservatore Romano English edition, [ore], 26 September 1974, p. 4). Pada hari yang sama, dengan mengacu pada St. Thomas, Paulus VI berkata “kita semua putra dan putri Gereja yang setia, dapat dan harus menjadi muridnya, setidaknya sampai tahap tertentu” (Address to people in the Square at Aquino, 14 September 1974; ORE, p. 5).

Marilah kita juga belajar dari pengajaran St. Thomas, dan dari karya agungnya, Summa Theologiae. Karya ini tidak selesai, namun ini adalah karya yang luar biasa: di dalamnya terdapat 512 pertanyaan dan 2.669 artikel. Ia terdiri dari penalaran terpusat yang mana pikiran manusia diterapkan bagi misteri iman, dengan kejernihan dan kedalaman bagi misteri iman, pertanyaan dan jawaban saling berganti yang mana St. Thomas mendalami pengajaran yang berasal dari Kitab Suci dan Bapa Gereja, secara khusus St. Agustinus. Dalam refleksi ini, dalam menjumpai pertanyaan sejati di masanya, St. Thomas, juga dengan menggunakan metode dan pemikiran filsuf kuno, dan Aristoteles secara khusus, ia tiba pada rumusan kebenaran iman yang tepat, jelas dan relevan, yang mana kebenaran adalah karunia iman yang bersinar dan terjangkau bagi kita, bagi permenungan kita. Namun, Aquinas sendiri mengingatkan kita denganhidupnya bahwa upaya pikiran manusia ini selalu diterangi oleh doa, oleh terang yang datang dari tempat tinggi. Hanya mereka yang hidup bersama Allah dan dengan misteri-misteri-Nya dapat memahami apa yang mereka katakan pada kita.

Dalam Summa Theologiae, St. Thomas memulai dari kenyataan bahwa Allah memiliki tiga cara untuk ada (being) dan mengada (existing): Allah ada dalam diri-Nya, ia adalah awal dan akhir segala sesuatu, dan inilah alasan mengapa semua ciptaan berasal dari-Nya dan bergantung pada-Nya: selanjutnya Allah hadir melaui rahmat-Nya dalam hidup dan aktivitas orang Kristen, orang Kudus; terakhir, Allah hadir dalam cara yang khusus dalam pribadi Kristus, Ia sungguh disatukan dengan Yesus-Manusia, dan aktif dalam sakramen-sakramen yang bersumber dari karya penebusan-Nya. Jadi, struktur karya monumental ini (cf. Jean-Pierre Torrell, La “Summa” di San Tommaso, Milan 2003, pp. 29-75), sebuah pencarian dengan “visi teologis” bagi kepenuhan Allah (cf. Summa Theologiae, Ia q. 1, a. 7), terbagi ke dalam tiga bagian, dan digambarkan oleh Doctor Communis itu sendiri. St. Thomas mengawali dengan perkataan ini: “Karena tujuan utama ajaran suci adalah untuk mengajarkan pengetahuan akan Allah, tidak hanya sebagaimana Ia ada dalam diri-Nya, tetapi jgua sebagaimana Ia adalah awal segala sesuatu dan tujuan akhir mereka, dan secara khusus mengenai ciptaan rasional, jelas sekali dari apa yang telah dikatakan, maka, kita akan membahas: (1) mengenai Allah; (2) mengenai pergerakan ciptaan rasional menuju Allah; (3) mengenai Kristus, yang sebagai manusia, adalah jala kita menuju Allah” (ibid.,I, q. 2). Ini adalah lingkaran: Allah dalam diri-Nya, yang keluar dari diri-Nya dan menggenggam kita dengan tangan-Nya, dalam cara yang sedemikian bersama Kristus, kita kembali kepada Allah, kita disatukan kepada Allah, dan Allah akan menjadi segala hal bagi semua orang.

Continue reading “Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Thomas Aquinas (Bagian III – Selesai)”

[Adven bersama Aquinas] Kasih adalah Hadiah yang Pertama

"Belisarius Begging for Alms", Jacques-Louis David, 1781
“Belisarius Begging for Alms”, Jacques-Louis David, 1781

St. Thomas Aquinas (Summa Theologiae Ia, Q.38)

“Hadiah” dinamakan demikian oleh sebab kemampuannya untuk diberikan… Renungkanlah bahwa hadiah, menurut Aristoteles, secara harafiah berarti sebuah pemberian yang tidak dapat dikembalikan; dengan kata lain, hadiah diberikan tidak dengan pemikiran bahwa hadiah tersebut akan dibalas, dan dengan demikian hadiah diberikan semata-mata dari kehendak baik. Adapun dasar dari tindakan memberi yang begitu  murah hati itu ialah kasih; alasan mengapa kita memberikan sesuatu kepada orang lain secara spontan adalah karena kita menghendaki kebaikan baginya. Dengan demikian, sesungguhnya hadiah atau karunia pertama yang kita berikan adalah kasih itu sendiri, yakni kasih yang dengannya kita mengasihi orang tersebut. Maka, jelaslah bahwa kasih memiliki karakter sebagai hadiah pertama kita, sebab melalui kasih itulah kita memberikan hadiah-hadiah yang lainnya. Oleh sebab itu, karena Roh Kudus datang sebagai Sang Kasih, demikianlah Ia datang sebagai Hadiah atau Karunia yang pertama. Agustinus (De Trinitate, XV.24) mengajarkan bahwa melalui Hadiah yang adalah Roh Kudus, hadiah-hadiah lainnya dibagikan kepada setiap jemaat Kristus. Continue reading “[Adven bersama Aquinas] Kasih adalah Hadiah yang Pertama”