Dominikan dan Devosi Nama Yesus yang Tersuci

 

Most Holy Name of Jesus
“The Holy Name of Jesus”, photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Secara tradisional, Gereja mendedikasikan bulan Januari, khususnya tanggal 3 Januari, kepada devosi Nama Yesus yang Tersuci.

Ordo Dominikan memiliki hubungan erat dengan devosi Nama Yesus yang Tersuci. Selain menaungi Persaudaraan Rosario Suci (Confraternity of the Holy Rosary) dan Persaudaraan Perang Malaikat (Confraternity of Angelic Warfare), OP juga menaungi Persaudaraan Nama Allah dan Yesus Kristus yang Mahakudus (Confraternity of the Most Holy Name of God and Jesus Christ).

Sejarah Persaudaraan

Sejarah Persaudaraan Nama Kudus dapat ditarik hingga ke Konsili Lyons tahun 1274 yang dibuka oleh Paus Gregorius X. Konsili tersebut menetapkan bahwa umat beriman harus memiliki devosi khusus terhadap Nama Allah. Melalui suratnya kepada Beato Yohanes Vercelli, Master Jenderal Ordo yang keenam, Paus menugaskan Ordo Dominikan untuk menyebarkan devosi istimewa ini. Para Dominikan dengan penuh semangat mewartakan kuasa dan kemuliaan Nama Yesus; devosi ini turut menginspirasi pula St. Bernardinus dari Siena (1380-1444) dan St. Yohanes Capistrano (1385-1456) untuk mempromosikannya.

Ordo Fransiskan adalah yang pertama memulai Persaudaraan Nama Yesus yang Tersuci pada abad ke-16, sedangkan Ordo Dominikan mendirikan Persaudaraan Nama Allah yang Mahakudus. Gereja kemudian memberikan pengakuan resmi atas persaudaraan yang kedua ketika Paus St. Pius V, juga seorang Dominikan, memberikan kekuasaan yuridis penuh kepada persaudaraan tersebut melalui Bulla “Decet Romanum tertanggal 21 Juni 1571.

Akhirnya, pada tanggal 26 Mei 1727, kedua persaudaraan tersebut digabungkan menjadi Persaudaraan Nama Allah dan Yesus Kristus yang Mahakudus oleh Paus Benediktus XIII. Sri Paus memberikan hak istimewa atas persaudaraan tersebut kepada Ordo Dominikan.

Tujuan Persaudaraan

Tujuan Persaudaraan ini dibentuk pertama-tama adalah untuk memberikan penghormatan yang mendalam pada nama Yesus yang Mahakudus. Selain itu, anggota Persaudaraan memiliki misi reparasi saat Nama-Nya yang kudus digunakan dengan tidak hormat, terlebih bila dihujat.

Tindakan reparasinya sederhana, yaitu setiap kali Nama-Nya dihina, dilecehkan, atau dihujat, kita membuat tanda salib dan doa singkat: “Terberkatilah Nama Tuhan” (Sit nomen Domini benedictum), dan dijawab dengan: “Sekarang dan selama-lamanya” (per omnia saecula saeculorum).

Beato Yohanes Vercelli menganjurkan para Dominikan agar mewartakan keutamaan Nama-Nya yang Mahakudus, dan membuat altar kecil tempat umat bisa melakukan venerasi atau penghormatan khusus kepada Nama Yesus yang Mahakudus.

“Sungguh haruslah dikatakan bahwa Nama Yesus memiliki kuasa yang hebat dan berlipat ganda; sebab Nama itu adalah perlindungan bagi pendosa, penawar bagi orang sakit, kekuatan bagi yang menderita, dan dukungan bagi yang berdoa, karena ia menganugerahkan pengampunan dari dosa, rahmat kesehatan, kemenangan bagi yang dicobai, dan kekuatan serta keyakinan untuk memperoleh keselamatan…

Oleh sebab itu, karena Engkaulah Juruselamat, jadilah Yesus bagiku! Ya Tuhan, aku tidak berkehendak untuk memberikan perhatian demikian besar atas kejahatanku sehingga sampai melupakan kebaikan-Mu.”

—St. Thomas Aquinas

Sumber:

[1] Constitution of the National Association of the Holy Name Society, Preamble.
[2] Catholic Tradition.org – The Holy Name of Jesus.

Advertisements

[Adven bersama Aquinas] Putra Allah Tidak Lain adalah Sabda Allah

"Jesus and the Samaritan Woman at the Well", Guercino (1641)
“Jesus and the Samaritan Woman at the Well”, Guercino (1641)

St. Thomas Aquinas (Komentar atas Syahadat Para Rasul, Art. 2)

Putra Allah tidak lain adalah Sabda Allah, bukan perkataan yang diucapkan secara lahiriah (sebab perkataan semacam ini bersifat sementara saja), melainkan perkataan yang dikandung di dalam batin. Maka, Sabda Allah ini memiliki kodrat yang sama dengan Allah dan setara dengan Allah.

Pertama-tama, kita harus mau mendengar perkataan Allah dengan suka hati… Kedua, kita harus mempercayai kata-kata-Nya… Ketiga, Sabda Allah yang tinggal di dalam diri kita harus terus-menerus kita renungkan… Keempat, kita harus membawa Sabda Allah kepada orang lain dengan cara menegur mereka, mewartakan kepada mereka, dan mengobarkan hati mereka. …Dan akhirnya, kita mesti mengamalkan Sabda Allah dalam keseharian kita: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak 1:22). Continue reading “[Adven bersama Aquinas] Putra Allah Tidak Lain adalah Sabda Allah”